Gubernur atau Gubernur General?

Oleh Deddy Arsya

Tuan Gubernur mengelurkan surat edaran tertanggal 6 Maret 2017. Surat edaran itu diedarkan kepada seluruh bupati dan walikota. Surat edaran itu mengintruksikan agar pejabat-pejabat di daerah dan termasuk tentara mengawasi petani yang lalai. Petani yang menunda-nunda mengerjakan sawahnya. Diinstruksikan, 15 hari setelah masa panen, sawah sudah harus ditanami, kata surat itu. Jika kedapatan 30 hari setelah panen petani belum juga mengolah sawahnya, sawah itu hendaknya diambil-alih saja pengelolaannya. Tentaralah akan mengelolanya kemudian.

Memang aneh juga, tiba-tiba pemerentah mengeluarkan surat edaran serupa itu. Ditambah lagi, sejak kapan tentara kini merangkap jadi petani penggarap. Continue reading Gubernur atau Gubernur General?

Api, api, api!

Kebakaran, api, si jago merah, menjadi masalah dalam banyak kurun. Dunia kita sekarang diteror oleh kehadirannya. Orang berjaga-jaga akan amuknya. Seperti air, api dinasehatkan sebagai ‘kecil jadi kawan, besar jadi lawan’.  Ia sumber bencana. Jika kita buka perbendaharaan lama, akan kita temukan banyak sekali keterangan-keterangan tentang amuk api ini. Tetapi bagaimana bencana kebakaran ini dicegah dan ditanggulangi di masa lalu, dan bagaimana pula para korban bencana ini ‘diselamatkan’ dari kemalangannya? Continue reading Api, api, api!

Dos-dos-dos: Bendi-bendi Melawan Zaman (Sumatera Barat, Abad XIX & XX)

Bendi yang ditarik kuda, atau kuda-bendi, atau dos, atau dokar, mulai populer digunakan di Sumatera Barat ketika “jalan raya mulai bagus”.[1] Sekurang-kurangnya itu berlangsung setelah memasuki paro kedua abad ke-19, ketika pemerintah Belanda memulai proyek-proyek jalan raya di kawasan ini, dan mencapai puncaknya pada akhir abad tersebut. Sebelum itu, moda transportasi lebih banyak diperankan oleh kuda tanpa pasangan (baik kuda beban maupun kuda tunggangan) dan buruh/kuli angkut. Sebelum membahas bendi lebih jauh, perlu diuraikan terlebih dahulu perkembangan moda transportasi yang populer sebelum bendi menjadi angkutan massal.

Kuli Angkut dan Kuda Beban

Minangkabau berada di bagian tengah pulau Sumatera. Pusat Minangkabau adalah daerah tiga ‘luhak’ yang subur. Berada di pedalaman, daratan tinggi (darek) ini dilingkari barisan-barisan pegunungan menjulang yang beberapa di antaranya aktif menyemburkan abu vulkanik. Dengan bentangan alam seperti itu, secara sekilas wilayah ini tampak terisolir dari dunia luar. Tetapi anggapan itu keliru belaka ketika mengetahui bahwa orang Minangkabau memiliki tingkat mobilitas yang tinggi sepanjang kehadiran mereka dalam sejarah. Continue reading Dos-dos-dos: Bendi-bendi Melawan Zaman (Sumatera Barat, Abad XIX & XX)

Celana Pendek & Cerita Pendek

Oleh Deddy Arsya

Apa arti celana bagi sebuah kekuasaan dan apa bagi rakyat?

Beberapa waktu setelah 1945, Idrus menulis sebuah cerita pendek yang tetap menarik dibaca sekarang. Bapak cerita pendek Indonesia itu menulis Kisah Sebuah Celana Pendek.

Tokoh utamanya seorang yang sulit dicari padanannya di dunia kita kini. Kusno, remaja 14 tahun yang baru tamat sekolah rakyat, dibelikan ayahnya sebuah celana pendek untuk ‘modal’ melamar pekerjaan.   Continue reading Celana Pendek & Cerita Pendek

Masa Depan Arsip dan Keberlanjutan Ilmu Pengetahuan

Oleh Deddy Arsya

A Centicle for Leibowitz karya Water M. Miller, Jr., adalah sebuah gambaran tentang bagaimana arsip menyelamatkan peradaban manusia. Terbit pertama kali pada tahun 1959, fiksi ilmiah paling terkenal di era perang dingin ini dibuka dengan sebuah lanskap pasca-kehancuran yang disebabkan perang nuklir. Dari kehancuran yang nyaris total itu, hanya biaralah satu-satunya lembaga pengetahuan yang selamat.

Seorang Leibowitz, insinyur dan ‘Cassiodorus’ (negarawan & penulis Yunani klasik) zaman modern,  telah membangun sebuah biara di gurun pasir Southwest untuk melestarikan pengetahuan dari akibat perang nuklir abad kedua puluh. Lalu, seorang biarawan abad kedua puluh enam kemudian menemukan teks-teks di tempat tersembunyi yang ditinggalkan oleh Leibowitz itu. Para biarawan yang tidak mengerti apa-apa memperlakukan diagram-diagram sirkuit dan daftar bahan makanan Leibowitz (“setengah kilo pastrami, sekaleng kraut, enam buah bagel”) dengan ketakziman yang sama. Namun, teks-teks ini pada akhirnya membuat orang mampu membangun kembali peradaban—yang mengirim para biarawan terbang ke luar angkasa kelak pada tahun 3700an. Continue reading Masa Depan Arsip dan Keberlanjutan Ilmu Pengetahuan