Penyair Kampung dan Perantau Murung

(Ulasan Pendek untuk Sarinah Penyair Esha)

Oleh Deddy Arsya

Apa arti kota bagi seorang penyair kampung dan apa bagi seorang perantau murung?

Sarinah (Grasindo: 2016) adalah tanggapan seorang kampung terhadap sebuah kota dunia ketiga dan sekaligus tanggapan seorang perantau terhadap daerah rantaunya.

Pada 1930an hingga seperempat abad setelah itu, kota dilihat sebagai produk modernitas yang dipuja. Menuju kota, orang-orang berderap dengan kepala tegak serupa prajurit muda yang siap ke medan tempur. Amuk pertempuran kehidupan di kota ditatap dengan penuh kebanggaan diri.

Tetapi, dunia berubah. Setelah itu, kota menjadi produk modernitas yang menindas. Kotor lagi buas. Pandangan terhadap kota lantas jadi serba murung. Continue reading Penyair Kampung dan Perantau Murung

Gubernur atau Gubernur General?

Oleh Deddy Arsya

Tuan Gubernur mengelurkan surat edaran tertanggal 6 Maret 2017. Surat edaran itu diedarkan kepada seluruh bupati dan walikota. Surat edaran itu mengintruksikan agar pejabat-pejabat di daerah dan termasuk tentara mengawasi petani yang lalai. Petani yang menunda-nunda mengerjakan sawahnya. Diinstruksikan, 15 hari setelah masa panen, sawah sudah harus ditanami, kata surat itu. Jika kedapatan 30 hari setelah panen petani belum juga mengolah sawahnya, sawah itu hendaknya diambil-alih saja pengelolaannya. Tentaralah akan mengelolanya kemudian.

Memang aneh juga, tiba-tiba pemerentah mengeluarkan surat edaran serupa itu. Ditambah lagi, sejak kapan tentara kini merangkap jadi petani penggarap. Continue reading Gubernur atau Gubernur General?

Api, api, api!

Kebakaran, api, si jago merah, menjadi masalah dalam banyak kurun. Dunia kita sekarang diteror oleh kehadirannya. Orang berjaga-jaga akan amuknya. Seperti air, api dinasehatkan sebagai ‘kecil jadi kawan, besar jadi lawan’.  Ia sumber bencana. Jika kita buka perbendaharaan lama, akan kita temukan banyak sekali keterangan-keterangan tentang amuk api ini. Tetapi bagaimana bencana kebakaran ini dicegah dan ditanggulangi di masa lalu, dan bagaimana pula para korban bencana ini ‘diselamatkan’ dari kemalangannya? Continue reading Api, api, api!

Dos-dos-dos: Bendi-bendi Melawan Zaman (Sumatera Barat, Abad XIX & XX)

Bendi yang ditarik kuda, atau kuda-bendi, atau dos, atau dokar, mulai populer digunakan di Sumatera Barat ketika “jalan raya mulai bagus”.[1] Sekurang-kurangnya itu berlangsung setelah memasuki paro kedua abad ke-19, ketika pemerintah Belanda memulai proyek-proyek jalan raya di kawasan ini, dan mencapai puncaknya pada akhir abad tersebut. Sebelum itu, moda transportasi lebih banyak diperankan oleh kuda tanpa pasangan (baik kuda beban maupun kuda tunggangan) dan buruh/kuli angkut. Sebelum membahas bendi lebih jauh, perlu diuraikan terlebih dahulu perkembangan moda transportasi yang populer sebelum bendi menjadi angkutan massal.

Kuli Angkut dan Kuda Beban

Minangkabau berada di bagian tengah pulau Sumatera. Pusat Minangkabau adalah daerah tiga ‘luhak’ yang subur. Berada di pedalaman, daratan tinggi (darek) ini dilingkari barisan-barisan pegunungan menjulang yang beberapa di antaranya aktif menyemburkan abu vulkanik. Dengan bentangan alam seperti itu, secara sekilas wilayah ini tampak terisolir dari dunia luar. Tetapi anggapan itu keliru belaka ketika mengetahui bahwa orang Minangkabau memiliki tingkat mobilitas yang tinggi sepanjang kehadiran mereka dalam sejarah. Continue reading Dos-dos-dos: Bendi-bendi Melawan Zaman (Sumatera Barat, Abad XIX & XX)

Celana Pendek & Cerita Pendek

Oleh Deddy Arsya

Apa arti celana bagi sebuah kekuasaan dan apa bagi rakyat?

Beberapa waktu setelah 1945, Idrus menulis sebuah cerita pendek yang tetap menarik dibaca sekarang. Bapak cerita pendek Indonesia itu menulis Kisah Sebuah Celana Pendek.

Tokoh utamanya seorang yang sulit dicari padanannya di dunia kita kini. Kusno, remaja 14 tahun yang baru tamat sekolah rakyat, dibelikan ayahnya sebuah celana pendek untuk ‘modal’ melamar pekerjaan.   Continue reading Celana Pendek & Cerita Pendek